Minggu, 18 Maret 2012

Kesehatan Mental 1

Sehat? Seperti apa sih kategori orang yang sehat itu? Apa mungkin jarang sakit atau tidak cacat? Mampu berfikir secara logis? Atau orang yang tidak pernah kesurupan? Mungkin masing-masing dari kita merasa pribadi yang sehat secara fisik, namun apakah orang yang sehat secara fisik juga pasti sehat secara psikologis? Seperti apakah konsep sehat secara psikologis? Tulisan saya berikut ini akan menjelaskan tentang Konsep Sehat, Kepribadian Sehat, Sejarah Kesehatan Mental serta Perkembangan Kepribadian. Apakah kalian sudah merasa menjadi pribadi yang sehat? Mari kita mulai mengulas satu-satu materi yang akan kita bahas. Lets start from now guys . . .


A. Sehat secara psikologis
Mencari pengertian sehat secara psikologis sangat sulit karna setiap ahli memiliki pandangannya yang berbeda-beda. Menurut saya pribadi, sehat adalah individu yang berada dalam batasan normal baik secara jasmani rohani atau individu yang memiliki kestabilan IQ, EQ dan SQ. Orang yang memiliki kestabilan IQ biasanya memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik atau lebih dari baik (dalam istilah psikologi tergolong dalam kecerdasan average, high average, superior atau very superior). Orang yang memiliki kestabilan EQ dapat terlihat dari kemampuannya mengontrol emosi baik emosi yang bersifat positif maupun emosi yang bersifat negatif atau kemampuannya “mengekspresikan” perasaan (marah, sedih ataupun senang) secara tidak berlebihan. Sementara orang yang memiliki kestabilan SQ terlihat dari aura wajahnya yang dipancarkan.
Berikut ini adalah pengertian sehat secara psikologis menurut beberapa ahli psikologi :
Menurut Allport orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang matang. Allport berpendapat “kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman masa kanak-kanak” artinya manusia tidak didorong oleh kekuatan pengalaman masa lampau melainkan didorong oleh rencana atau intensi kita untuk masa depan. Adapun tujuh kriteria kematangan menurut Allport adalah perluasaan perasaan diri, hubungan diri yang hangat dengan orang lain, keamanan emosional, persepsi realistis, keterampilan dan tugas-tugas, pemahaman diri serta filsafat hidup yang mempersatukan.
Menurut Rogers orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang berfungis sepenuhnya. Ada tiga hal yang diungkapkan oleh Rogers yaitu keprribadian sehat adalah suatu arahan bukan sebuah proses, aktualisasi diri merupakan suatu proses dan yang ketiga adalah diri mereka sendiri. Dari ketiga pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepribadian sehat adalah sebuah proses. Adapun lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya adalah keterbukaan terhadap pengalaman, kehidupan eksistensial, kepercayaan terhadap organisme orang sendiri, perasaan bebas dan kreativitas.
Konsep sehat berikutnya dijelaskan oleh Maslow. Dimana Maslow menggambarkan pribadi sehat melalui orang-orang yang mampu mengaktualisasikan diri. Secara umum orang yang dapat mengaktualisasikan diri memiliki ciri-ciri sebagai berikut mendapatkan seluruh kebutuhan dari piramida kebutuhan yang juga diungkapkan oleh Maslow, terbebas dari gangguan patologis, mengetahui diri mereka secara jujur. Maslow juga memberikan sifat khusus yang dapat menggambarkan pengaktualisasian diri, yaitu : mengamati realitas secara efisien, penerimaan umum atas kodrat, spntanitas kesederhanaan kewajaran, fokus pada masalah di luar diri mereka, kebutuhan akan privasi dan independensi, berfungsi secara otonom, apresiasi yang senantiasa segar, pengalaman-pengalaman mistik, minat sosial, hubungan antarpribadi, stuktur watak demokratis, perbedaan antara saran dan tujuan baik dan buruk, perasaan humor, kreativitas, resistensi terhadap inkulturasi.
Menurut Fromm orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang produktif. Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif yakni kepribadian matang yang diungkapkan oleh Allport dan orang yang mengaktualisasikan diri menurut Maslow. Konsep itu menggambarkan “penggunaan” manusia secara penuh dari potensi yang dimilikinya. Melalui kata “orientasi”, Fromm mencoba menggambarkan suatu sikap umum yang meliputi semua segi kehidupan, respon intelektual, emosional dan sensoris. Empat segi tambahan yang menjelaskan orientasi produktif dari Fromm adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan dan suara hati.
Sementara menurut Jung orang yang memiliki karakter sehat adalah orang yang terindividuasi. Syarat pertama individuasi adalah orang menyadari segi-segi diri yang telah diabaikan. Jung merumuskan proses individuasi sebagai proses menjadi seseorang yang unik, satu ada yang homogen. “Individuasi” artinya menjadi diri atau realisasi diri. Dimana individuasi bersifat instinktif yaitu suatu tujuan yang jarang dapat dipenuhi. Untuk bergerak menuju individuasi, individu harus melepaskan tingkah laku-tingkah laku, nilai-nilai dan pikiran-pikiran yang membimbing setengah bagian pertama dari kehidupan dan sampai kepada ketidaksadaran.
Menurut Frankl orang yang sehat adalah orang yang mengatasi diri. Frankl percaya bahwa hakikat manusia terdiri dari tiga, yaitu : spiritualitas, kebebasan dan tanggungjawab. Menurutnya dorongan utama manusia hidup adalah mencari bukan diri melainkan “melupakan” diri kita. Orang yang sehat secara psikologis telah bergerak ke luar melampaui fokus pada dirin sendiri, menjadi sesuatu diluar diri sendiri.
Dan terakhir yang memberikan gambaran tentang konsep sehat adalah Perls. Perls tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai orang yang sehat namun ia memberikan pandangannya yang berbunyi “orang disini dan kini”. Orang yang sehat secara psikologis memiliki kesadaran dan penerimaan penuh terhadap diri mereka siapa dan apa. Mereka menerima kelebihan dan kekurangan mereka sebagai manusia bahkan mereka mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menutupi kekurangannya.
Dari berbagai pandangan para ahli psikologi yang mengungkapkan konsep sehat sangat sulit untuk menemukan persamaan konsep sehat secara pasti. Namun kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang sehat memiliki kemampuan untuk mengontrol kehidupan mereka secara sadar walaupun tidak secara rasional, mengetahui diri mereka dengan “siapa dan apa”, bersandar pada kekuatan masa sekarang dan tidak hidup pada masa lalu atau lebih cenderung ke masa depan, selalu merindukan tantangan dan kegembiraan.
 
Dimensi kesehatan dibagi menjadi lima, yaitu :
1. Jasmani : Orang yang memiliki kesehatan jasmani sangat mudah untuk dinilai. Orang yang memiliki kesehatan jasmani dapat terlihat dari fisiknya yang todak mudah sakit dan wajah yang fresh.
2. Rohani : Orang yang memiliki kesehatan secara rohani sudah jelas terlihat dari ketaatannya dalam beribadah.
3. Emosi : Sangat sulit untuk menentukan seseorang memiliki kesehatan baik atau tidak secara emosi namun hal yang paling mudah untuk diamati adalah kestabilan dalam mengungkapkan perasaan artinya seseorang selalu dalam batasan wajar dan tidak berlebihan dalam berekspresi baik emosi positif maupun emosi negatif.
4. Kognitif : Orang yang sehat secara kognitif adalah orang-orang yang memiliki IQ baik hingga tingkatan diatasnya.
5. Spiritual :Orang yang berspiritual baik terlihat dari aura serta kenyamanan bagi setiap orang yang memandangnya.


B. Sejarah Kesehatan Mental
Lalu bagaimanakah sejarah tentang penyakit mental? Siapa sajakah tokoh yang sudah berjasa "mempublikasikan" kesehatan mental? Awalnya penyakit mental hanya dianggap bukan penyakit lalu ada beberapa tokoh yang mengatakan bahwa penyakit mental adalah sebuah penyakit sampai akhirnya terbentuk sebuah Lembaga yang mewadahinya. Berikut ini adalah ulasan lengkapnya.
A. Gangguan mental tidak dianggap sebagai penyakit
 Tahun 1600 (dan sebelumnya) : Orang yang sakit secara mental dahulu kala dianggap sebagai “orang yang kesurupan”. Mengapa demikian? Karena orang jaman dulu menganggap orang yang mengalami gangguan mental adalah orang-orang yang dimasuki oleh roh-roh. Maka dari itu penyembuhannyapun juga melalui healer, shaman atau penyembuh yang lebih dikenal dengan istilah dukun.
 Tahun 1692 : Di Amerika, orang yang mengalami gangguan mental dianggap sebagai orang-orang yang terkena sihir atau dirasuki setan. Di Inggris, orang yang mengalami gangguan mental disamakan dengan penjahat kriminal sehingga si penderita dimasukkan ke dalam penjara.

B. Gangguan mental dianggap sebagai penyakit
 Tahun 1724 : Pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi di dalam tubuh sekaligus mematahkan takhayul yang berkembang selama ini.
 Tahun 1812 : Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Sementara itu di Inggris, muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa ini di rumah sakit. walaupun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat launpun muncul masa terapi pesimisme.
 Tahun 1908 : Clifford Beers yang pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa dengan penanganan yang benar maupun yang salah mengeluarkan buiku “A Mind That Found Itself”. Buku tersebut langsung memberikan efek yaitu menyebarkan visinya mengenai gerakan kesehatan mental. Beers lalu mendirikan Masyarakat Connecticut yang merupakan akar dari Asosiasi Kesehatan Mental Nasional.
 Tahun 1910 : Emil Kraepelin pertama kali mengemukakan penyakit Alzheimer dan alat tes untuk mendeteksi gangguan epilepsi.
 Tahun 1920-an : Komite Nasional untuk Mental Higiene menghasilkan satu set model undang-undang komitmen selain itu komite membantu penelitian-penelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental dan treatment.
 Tahun 1936 : Agas Moniz mempublikasikan laporan lobotomi frontal manusia yang pertama.
 Tahun 1940-an : Penggunaan elektoterapi di rumah sakit Amerika. Elektroterapi adalah terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak.
 Tahun 1947 : Fountain House memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
 Tahun 1950 : Dibentuknya National Association of Mental Health (NAMH) untuk melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
 Tahun 1952 : Obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental utama lainnya.
 Tahun 1960-an : Pengenalan obat-obat antipsikotik konvensional. Selain itu media Inggris juga mengungkapkan kesehatan mental melalui orang-orang yang pernah mengalaminya.

C. Gangguan mental dianggap sebagai bukan penyakit
 Tahun 1961 : Thomas Szasz mengemukakan teori yang menyatakan “sakit mental” tidaklah benar-benar “sakit” tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan.
 Tahun 1970 : Mulainya deinstitusionalisasi massal.
 Tahun 1979 : NAMH menjadi the National Mental Health Association (NAMH).
 Tahun 1980 : Muncul perawatan terencana, opname dirumah sakit dalam waktu pendek dan treatment masyarakat sebagai standart penyembuhannya.


C. Perkembangan Kepribadian
Selanjutnya saya akan mengulas tentang perkembangan kepribadian. Ada banyak teori tentang perkembangan kepribadian, kali ini saya akan membahas perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud dan Erick H Erikson. Teori kepribadian Freud biasa dikenal dengan teori psikologi seksual karna menitikberatkan pada libido sementara teori perkembangan kepribadian dari Erikson dikenal dengan psikologi sosial karna memperhatikan pengaruh dari lingkungan. Sekarang mari kita ulas kedua teori itu secara lengkap.
A. Teori Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud
Freud berpendapat bahwa kepribadian telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima. Menurutnya fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido. Libido adalah energi psikis yang bersifat seksual (dorongan kehidupan) yang ada sejak bayi. Berikut ini adalah tahapan perkembangan menurut Sigmund Freud :
a. Fase oral (0-1 tahun) : Anak memperoleh kenikmatan dan kepuasan yang bersumber pada mulut. Hubungan sosial bersifat fisik seperti makan dan mengempeng. Objek sosial terdekatnya adalah ibu.
b. Fase anal (1–3 tahun) : Fase ini pusat kenikmatan terletak didaerah anus, terutama saat BAB. Inilah saat untuk mengajari anak toilet training. Pada anak laki-laki terjadi Oedipus Kompleks.
c. Fase falik (3–5 tahun) : Daerah kepuasaan berpindah ke daerah alat kelamin. Anak tertarik pada perbedaan anatomis laki-laki dan perempuan.
d. Peride laten (5–12 tahun) : Ini bisa dikatakan sebagai masa itirahat, anak mengembangkan kemampuan motorik dan kognitifnya dengan pesat. Anak mulai mencoba menekan rasa takut dan ceman. Selain itu pada periode ini juga terjadi homo seksual secara alami karena anak akan bermain dengan teman sesama jenis.
e. Fase genital ( > 12 tahun ) : Alat-alat reproduksi mulai berfungsi, pusat kepuasaan berada di daerah kelamin. Libido diarahkan untuk hubungan heteroseksual. Mulai merasakan cinta kepada lawan jenis.

B. Teori Perkembangan Kepribadian Erick H Erikson
Menurut Erikson, perkembangan kepribadian manusia dibagi kedalam delapan tahanpan yang terjadi secara berurutan dan berhubungan. Dimana empat tahap pertama dilalui pada saat individu dalam masa bayi dan kanak-kanak, tahapan kelima dilalui saat individu memasuki masa adolesen (remaja) sementara tiga tahapan terakhir dilalui individu pada masa dewasa dan tua. Dimana masa adolesen memegang peranan penting karna pada masa ini akan terbentuk identitas atau malah kekacauan identitas. Erikson membagi delapan tahapan perkembangan kepribadfian berdasarkan kualitas dasar ego yang muncul pada setiap tahapannya. Berikut ini adalah delapan tahapan perkembangan kepribadian menurut Erick Erikson :
a. Basic trust vs Basic mistrust ( 0 – 1 tahun )
Situasi-situasi yang menyenangkan dan orang-orang yang bertanggungjawab membuat kenyamanan menjadi akrab dengan bayi. Berkat kenyamanan dan keamanan itu maka bayi akan mengembangkan prestasi sosial pertamanya yaitu kepercayaan dasar. Sebaliknya bila rasa kenyamanan dan keamanan itu tidak terpenuhi makan akan terbentuk kecurigaan dasar.
b. Authonomy vs Shame and Doubt ( 2 – 3 tahun )
Anak dapat melakukan aktivitas secara lebih luas dan bervariasi maka konflik yang terjadi saat ini adalah perasaan untuk mandiri atau ragu-ragu dan malu.
c. Initiative vs Guilt ( 3 – 6 tahun )
Jika pada tahapan sebelumnya anak bisa mencapai tahapan mandiri maka selanjutnya anak akan mengembangkan inisiatifnya untuk mengambil kepurusan atau merasakan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya. Namun apabila anak sebelumnya gagal mencapai kemandirian, dengan kata lain anak mengembangkan keragu-raguan maka selanjutnya ia akan berkembang menjadi anak yang penuh dengan perasaan bersalah.
d. Industry vs Inferiority ( 6 – 11 tahun )
Anak akan merasa mampu melakukan segala sesuatu pada tahapan ini atau anak akan merasa “kecil” atau rendah diri dilingkungannya.
e. Identity vs Role confusion ( 12 tahun )
Anak dihadapkan pada norma-norma atau sosok yang diharapkan oleh orang tua sementara itu anak sendiri merasakan dirinya sebagai individu yang unik. Maka inilah masa dimana anak mulai ingin menentukan siapa dirinya saat ini dan ingin menjadi siapa dirinya dimasa akan datang. Jika anak dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan kemampuan yang ada maka inilah yang disebut dengan identitas. Sementara jika anak gagal menenukan dan mengembangkan dirinya maka anak akan mengalami yang namanya kekaburan peran.
f. Intimacy vs Isolation
Remaja mulai ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Individu mulai menjalin sebuah hubungan dengan lwan jenis. Nilai cinta mulai berkembang dalam tahapan keintiman ini. Sementara lawannya adalah isolasi yaitu kecenderungan untuk menghindar dari orang lain atau sibuk mengurusi dirinya sendiri.
g. Generativity vs Self-absorbtion
Individu akan memperhatikan apa yang dihasilkannya serta mulai merencanakan untuk memiliki keturunan atau malah individu akan mengalami stagnasi.
h. Integrity vs Despair
Individu akan mengakumulasikan dan mengingat masa lalunya. Rasa puas akan prestasi dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbulkan kepuasan atau kekecewaan.


D. Kepribadian Sehat
Kepribadian sehat apabila dijelaskan secara statistika adalah pribadi yang berada didalam kurva normal. Sementara dari pandangan lainnya kepribadian sehat menekankan pada pengoptimalan potensi-potensi yang dimiliki.


E. Daftar Pustaka
    •   Prabowo, Hendro, 1996 dkk.Psikologi Umum I, Jakarta : Universitas Gunadarma
    •  Lindzey, Gardner dan Hall, Calvin S, 1993. Teori-Teori Psikodinamika (Klinis), Yogyakarta : Kanisius
    •  Schultz, Duane, 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat, Yogyakarta : Kanisius
    •   Siswanto, 2007. Kesehatan Mental, Yogyakarta : Andi Yogyakarta

    Kamis, 29 Desember 2011

    mengulas jurnal

    Oke temen-temen di akhir tahun dan di akhir masa-masa perkuliahan semester tiga ini saya mendapat tugas untuk mengulas sebuah jurnal yang menyangkut tentang psikologi dan perkembangan teknologi. Ya mungkin secara awam semua bisa menilai jika kemajuan internet akan menimbulkan dampak negatif pada individu yang bersangkutan seperti akan muncul banyak tindak kekerasan di masyarakat. persepsi itu tidak salah namun juga tidak benar maka dari itu yuukkk mari kita bahas pengaruh-pengaruh apa saja yang ditimbulkan perkembangan teknologi pada psikologis anak.
    Dalam sebuah jurnal yang berjudul " pengaruh pengenalan komputer terhadap psikologis anak : studi kasus taman balita salman al farisi " dijelaskan bahwa perkembangan teknologi saat ini sudah tidak terbatas, artinya siapapun dimanapun dan kapanpun pasti menggunakan bantuan teknologi dalam menyelesaikan tugasnya. Bahkan anak-anak sudah terbiasa dengan chatting, email atau sekedar bermain game online di komputer. Diperkirakan sekitar 67 % rumah di Amerika Serikat memiliki game komputer konsol.
    Pada khakikatnya perkembangan adalah proses yang terjadi secara terus menerus tanpa henti. Manusia berkembang dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya dan berbagai macam faktor tersebut saling berhubungan. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor gen atau hereditas, lingkungan, fisik, emosi, intelegensi dan sosial. Memahami perkembangan anak merupakan upaya yang dapat dilakukan agar perkembangan anak terjadi secara maksimal.
    Erik Erickson mengungkapkan delapan tahapan perkembangan yang pasti dilalui oleh setiap individu. tahapan-tahapan tersebut adalah kepercayaan vs ketidakpercayaan, autonomy vs rasa malu dan ragu, inisiatif vs perasaan bersalah, industri vs infenrioritas, identitas vs kekaburan peran, intimacy vs isolasi, produktivitas vs stagnansi dan terakhir integritas vs putus asa. Jika tahapan-tahapan tersebut dapat dilaluinya dengan baik sesuai dengan usianya maka perkembangan anak akan menjadi sangat baik dan maksimal dan sebaliknya jika anak tidak dapat melalui tahapan tersebut maka perkembangan anak menjadi terganggu.
    Upaya yang dapat dilakukan dalam memenuhi setiap tahapan perkembangan tersebut antara lain memberikan kegiatan kepada anak sesuai dengan usianya. Seperti contohnya pada usia satu tahun anak mengembangkan rasa percayanya yang didapat melalui keluarga, usia dua hingga tiga tahun anak mulai belajar mengembangkan koordinasi visio-motoriknya. Secara umum tugas yang harusnya dilalui oleh anak pada fase kanak-kanaknya antara lain : meningkatkan keterampilan fisik, menyadari tugas akan gender, bersosialisasi atau bermain dengan teman sebaya, belajar bersekolah dll. Namun pada kenyataannya, sekarang ini banyak anak-anak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan diusianya sebagai contoh, saat ini anak-anak sudah banyak yang dengan fasih menggunakan internet atau menonton televisi dengan jangka waktu yang cukup lama. Hal-hal ini akan mengganggu perkembangan anak di fase selanjutnya.
    Sumber :
    * http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/1308/1067

    Senin, 28 November 2011

    Psikologi 07 Slideshow Slideshow

    Psikologi 07 Slideshow Slideshow: TripAdvisor™ TripWow ★ Psikologi 07 Slideshow Slideshow ★ untuk Jakarta and Bekasi. Slideshow perjalanan gratis yang menakjubkan di TripAdvisor

    internet dan psikologi

    Di zaman yang semakin maju ini semua kegiatan bisa dengan mudah dilakukan, hanya dengan "mengklik" satu tombol kita sudah dapat mengetahui apa saja yang terjadi di dunia bagian manapun. Dulu saat internet belum ada, kita harus menulis surat untuk mengetahui kabar teman atau sodara kita yang berbeda daerah atau negara tapi sekarang kita bisa menggunakan email atau chatting langsung dengan orang yang kita tuju. Begitu juga dengan dunia psikologi, dulu sebelum ada internet seorang pasien harus bertemu langsung "menyatroni" kediaman atau tempat praktek seorang psikolog tapi sekarang konsultasi bisa dilakukan dengan mudah. yaitu dengan mengakses situs-situs psikologi yang ada.
    Salah satu situs psikologi yang keberadaannya sangat dikenal di Indonesia adalah e-psikologi. E-psikologi adalah website yang dikelola oleh beberapa praktisi di bidang sumber daya manusia dengan didasarkan pada pemikiran untuk mengembangkan peranan Psikologi dalam membantu pengembangan diri individu baik di dalam lingkungan sekitarnya maupun dalam organisasi. Tujuan pembuatannya website ini adalah :
    1. Memberikan informasi Psikologi yang berguna
    2. Ikut serta dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia
    3. Menjadi mitra bagi yang membutuhkan solusi untuk masalah-masalah psikologisnya
    Inilah tampilan awal saat kalian membuka situs www.e-psikologi.com
    Yuk kita telaah masing-masing dari aplikasi yang tersedia :
    1. pencarian artikel
    aplikasi ini pencarian artikel ini berguna untuk mempermudah kita mencari artikel yang kita inginkan
    2. artikel baru
    aplikasi ini berisikan artikel-artikel yang baru saja ditambahkan ke dalam e-psikologi. artikel yang ada diharapkan dapat memberikan masukan pengetahuan bagi setiap pengunjung e-psikologi
    3. lingkaran psikologi
    didalam lingkarang psikologi ini, setiap gambar dapat diklik, dan didalamnya berisikan artikel sesuai dengan bagian yang kita klik, berikut ini salah satu contohnya
    4. tempat konseling
    Sebelumnya mari kita bahas sedikit pengertian konseling. konseling menurut James F. Adam adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu dimana yang seorang (counselor) membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat memahami dirinya dalam hubungan denfgan masalah-masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan waktu yang akan datang.
    Secara etimologi, konseling berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” .
    didalam e-psikologi terdapat beberapa link untuk melakukan konseling.
    terdapat tiga link yang disediakan untuk pengunjung e-psikologi melakukan konsultasi. pertama adalah link konseling yang berhubungan dengan pemikiran otak, link kedua berisikan link yang berhubungan dengan survey dan link terakhir berisikan program kami (e-psikologi).
    Setidaknya itulah sedikit bagian yang bisa saya gambarkan dari tampilan e-psikologi. Situs yang dibuat untuk mempermudah bagi siapapun yang ingin belajar psikologi, selain itu kegiatan konseling pun bisa dilakukan dengan cara online, kita tidak perlu jauh-jauh pergi ke klinik tempat seorang psikolog melakukan praktik.
    sumber referensi :
    1. http://www.e-psikologi.com/epsi/default.asp
    2. http://bintangnyabintang.blogspot.com/2009/11/pengertian-konseling.html

    Senin, 07 November 2011

    Pikiran

    KEKUATAN PIKIRAN
    Syekh Muhammad Mutawalli al-Syarawi mengatakan bahwa Pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai lebih baik dan lebih menjamin masa depan diri dan kekurangannya. Dalam psikologi-sosial, ilmuan mendefinisikan berfikir sebagai salah satu pembeda antara manusia dari binatang, tumbuhan serta benda mati lainnya. Dengan berfikir manusia mampu membedakan yg baik dan yg buruk, yg halal dan yg haram serta yg bermanfaat dan tidak bermanfaat. Maka dengan berfikir manusia bisa memilih hal yg cocok bagi dirinya sendiri serta bertanggungjawab atas pilihannya sendiri.
    Dalam filsafat india kuno, " hari ini anda bergantung kepada pikiran yg sedang anda pikirkan, esok anda ditentukan oleh kemana pikiran membawa anda ". Dan kenyataannya, perasaan dan perbuatan pasti dimulai dari pikiran. Dalam Aladdin Factor karya Jack Canfield dan Mark Viktor Hansen disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60.000 pikiran. satu-satunya yg dibutuhkan sejumlah besar pikiran itu adalah pengarahan. jika arah yg ditentukan bersifat negatif maka sekitar 60.000 pikiran itu akan keluar dari memori ke arah negatif. sebaliknya jika arah yg ditentukan bersifat positif maka sejumlah pikiran yg sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yg positif.
    Berfikir itu sederhana dan hanya butuh waktu sekejap. Namun ia memiliki proses yg kuat dari tujuh sumber yg berbeda-beda. Ketujuh sumber itu adalah orangtua, keluarga, masyarakat, sekolah, teman, media masa dan diri sendiri. Dari kerujuh sumber diatas sumber pertama dan terakhirlah yg memiliki peranan penting. Orangtua merupakan sumber belajar seorang individu yg pertama, "aku belajar seperti proses belajarnya kera yaitu dengan menyaksikan dan meniru mereka". Sementara diri sendiri merupakan pemimpin dari ketujuh sumber tersebut. Pikiran dalam diri sendiri bisa membuat penyakit kejiwaan dan fisik. Menurut Socrates " Dengan berfikir, seseorang bisa menjadikan dunianya berbunga-bunga atau berduri-duri".
    Pikiran adalah hasil pilihan sendiri. Sebelum memilih pikiran tertentu maka pertimbangkanlah baik-baik. Jika pikiran tertentu memiliki dampak positif mantapkanlah hingga ia menjadi pengontrol perbuatan anda secara konsisten. Jika pikiran anda memiliki dampak negatif makan ubahlah persepsi anda, ketika anda mengubah persepsi maka segala sesuatupun ikut berubah.

    #   Pikiran Melahirkan Mindset
    Mindset :  sekumpulan pikiran yang terjadi berkali-kali diberbagai tempat dan waktu yang diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat  dan waktu yang sama.

     
    #   Pikiran Melahirkan Kebiasaan
    Kebiasaan manusia terbentuk karna pengulangan perilaku, kemudian diikat oleh perasaan maka terbentuklah file khusus yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut. Setiap kali perilaku itu diulang maka kuatlah rekaman tersebut yang kemudian disimpan di alam bawah sadar. Jika kesempatan lain ia menghadapi kondisi yang sama maka ia bersikap sama.
    Kebiasaan :   pikiran yang diciptakan seseorang dalam benaknya, kemudian dihubungkan dengan perasaan dan diulang-ulang hingga akal meyakininya sebagai bagian dari perilaku.
    Kebiasaan terbentuk melalui 6 tahapan :
      1.  Berpikir  :  Tahapan untuk memikirkan sesuatu, memberi perhatian dan berkonsentrasi.
      2.  Perekaman  :  Saat berfikir otak merekam dan membuat file yang sejenis dan menghubungkannya dengan hal lain. Seseorang dapat menjauhi dan menutup file jika menghendakinya.
      3.  Pengulangan  :  Seseorang memutuskan untuk mengulang perilaku yang sama dengan perasaan yang sama pula.
      4.  Penyimpanan  :  Karna perekaman dilakukan berkali-kali makan pikiran semakin kuat. Otak menyimpan file dan menghadirkannya setiap kali kita menghadapi keadaan yang serupa.
      5.  Pengulangan  :  Secara sadar atau tidak sadar seseorang mengulangi perilaku yang tersimpan kuat didalam akal bawah sadar.
      6.  Kebiasaan  :  Karna pengulangan yang berkelanjutan dan tahapan-tahapan dilalui maka akal manusia  meyakini kebiasaan tersebut merupakan bagian terpenting dari perilaku seseorang.

    Sumber : 
    • Elfiky, Ibrahim, 2009. Terapi Berfikir Positif, Jakarta : Zaman

    Jumat, 04 November 2011

    KONSEP DIRI ANAK JALANAN

    Latar Belakang
    Fenomena anak jalanan sebetulnya sudah berkembang sejak lama, tetapi masalah yang dulu hanya dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan terutama pemerintah sekarang ini semakin sudah menjadi perhatian dunia secara serius, seiring dengan meningkatnya jumlah anak jalanan di berbagai kota di dunia. Modernisasi dan industrialisasi sering kali dituding sebagai pemicu timbulnya fenomena ini, diantara beberapa pemicu yang lainnya, perkembangan daerah perkotaan secara pesat mengundang terjadinya urbanisasi dan kemudian komunitas-komunitas kumuh atau daerah kumuh yang identik dengan kemiskinan perkotaan.
    Indonesia merupakan negara berkembang yang “identik dengan 'kemiskinan”. Kita dapat melihat di setiap kota yang hampir pasti ada daerah yang perumahannya berhimpitan satu dengan yang lain, perumahan-perumahan yang dibangun ditempat yang tidak diijinkan dan akhirnya menjadi daerah yang padat penduduk serta kumuh, banyaknya pengamen, pengemis, anak jalanan dan masih banyak lagi keadaan yang dapat menggambarkan “masyarakat miskin perkotaan”. Bahkan saat ini diperkirakan ada 50.000 anak yang “terjun” di jalanan untuk mencari penghidupan.
    Anak-anak yang seharusnya berkembang dengan normal melewati setiap tahapan perkembangan yang ada malah sudah mulai bekerja melakukan tugas layaknya orang tua. Banyak anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya dijalanan untuk mencari penghidupan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk “orang lain” daripada menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain seperti layaknya anak-anak kebanyakan.
    Banyak cara yang telah dilakukan pemerintah dalam rangka mengurangi jumlah anak jalanan di Indonesia. Namun semua itu terasa sia-sia karena bukan semakin menipisnya jumlah mereka tetapi malah semakin banyak saja anak-anak yang turun ke jalan untuk mencari penghidupan mereka. Mereka mengamen di berbagai tempat dan juga dengan berbagai cara. Mengamen saat ini tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka saja tetapi sudah merupakan pekerjaan tetap yang prospek kelestariannya akan berlanjut.
    Rumusan Masalah
    Bagaimanakah konsep pencitraan diri anak jalanan ?
    Metode Penelitian
    Pendekatan yang digunakan dalam metode penelitian ini adalah wawancara. Dimana subjek adalah seorang anak jalanan yang hidup di jalanan (children on the street). Subjek bernama Andi, anak jalanan yang datang dari Kerawang untuk mencari pekerjaan dan akhirnya memutuskan untuk mengamen. Andi berusia 13 tahun.
    Kajian Pustaka
    Konsep diri pada anak jalanan
    Fenomena anak jalanan yang sekarang semakin berkembang secara pesat sebenarnya bukanlah hal baru bagi Indonesia, hanya saja masalah yang lama ini baru dipandang secara serius akhir-akhir ini karena semakin hari semakin meningkat jumlah pengamen jalanan yang ada di Indonesia. Di Indonesia terdapat 50.000 bahkan lebih anak-anak yang sudah bekerja dan turun ke jalan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari demi kelangsungan hidup yang mereka jalani.
    Menurut de Maura (2002), anak jalanan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yakni anak jalanan yang bekerja dijalanan dan anak jalanan yang hidup di jalanan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan, anak-anak yang bekerja dijalanan memiliki banyak alasan antara lain untuk membantu orang tuanya dengan presentase sebanyak 71%, dipaksa membantu orang tuanya sebanyak 6%, menambah biaya sekolah sebanyak 17%, dan karena ingin hidup bebas, menambah teman serta uang jajan sebanyak 33%.
    Dengan alasan yang berbeda-beda tersebut juga membuat penampilan pengamen jalanan berbeda. Secara umum, masyarakat selalu menilai negative pengamen jalanan, kebanyakan mereka menilai hanya karena melihat penampilannya yang lusuh dan bau tetapi ada juga yang berfikiran bahwa pengamen jalanan sangat mungkin untuk melakukan tindakan kriminal disaat pendapatan mereka tidak mencukupi untuk kebutuhan hari itu. Padahal tidak semua dari pengamen jalanan melakukan hal tersebut (seperti Andi, anak jalanan yang kami wawancarai kemaren). Penampilan yang lusuh dan kumuh membuatnya dipandang negative oleh lingkungan sekitarnya meskipun ia tidak pernah melakukan tindakan kriminal.
    Chaplin menjelaskan bahwa konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri atau penafsiran mengenai individu oleh individu yang bersangkutan. Konsep diri tercipta karena adanya interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Apa yang dipersepsikan oleh lingkungan sekitar sangat mempengaruhi penilaian mengenai diri uang akan dibentuk. Penilaian itu terbentuk juga atas beberapa faktor seperti struktur, peran serta status sosial dari individu yang bersangkutan (Papalia, Olds, dan Feldman, 2004). Menurut Subadi, dkk (1986).
    Baldwin dan Holmes (dalam Calhoun dan Acocella 1995), terdapat beberapa faktor pembentuk konsep diri pada remaja yaitu :
    1. orangtua
    sebagai kontak sosial yang paling awal kita alami.
    2. teman sebaya
    ini berhubungan dengan faktor penerimaan atau penolakan dalam komunitas bermain.
    3. masyarakat
    yang menganggap fakta-fakta penting tentang kelahiran dan sampai saatnya informasi itu masuk kedalam konsep diri si anak.
    4. belajar
    dimana muncul konsep diri bahwa konsep diri kita adalah hasil dari belajar dan dapat didefinisikan sebagai perubahan psikologis yang terjadi didalam diri individu secara permanen akibat dari belajar
    Menurut Calhoun dan Acocella 1995, terdapat tiga dinemsi pencitraan diri yakni pengetahuan, harapan serta penilaian atau evaluasi. Dimensi pertama adalah pengetahuan. Segala pengetahuan yang dimiliki oleh individu ini dapat tercermin dalam keluarga, sekolah serta teman sebaya. Menurut Burns (1993), merasa tidak disenangi adalah salah satu ciri dari individu yang memiliki konsep diri negative. Dalam keluarga, jika subjek merasa bahwa seluruh anggota keluarga tidak menyukainya maka ini akan menimbulkan konsep diri yang negative dalam dirinya. Dalam pergaulan teman sebayanya, subjek merasa dapat diterima dalam komunitasnya dengan baik tetapi sayangnya komunitas subjek ini adalah komunitas punk rock yang memaksa subjek untuk melakukan kegiatan negative maka disini subjek memiliki sesuatu yang dapat menariknya ke arah pencitraan diri negative jika subjek tidak menarik diri, sampai suatu saat subjek memutuskan untuk keluar dari komunitas tersebut dan disini subjek memiliki sesuatu yang dapat menimbulkan pencitraan yang positif bagi dirinya sendiri.
    Statusnya sebagai anak jalanan, subjek merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi setelah kematian kedua orangtuanya maka dari itu subjek memilih untuk pergi ke Jakarta untuk bekerja. Kesehariannya diisi dengan mengamen dari satu tempat ke tempat lain selama hampir seharian penuh, maka dari sini subjek dikategorikan kedalam anak jalanan yang hidup dijalan (children of the street). Saat mengamen subjek permah dikerjar oleh trantib dan dimasukkan ke dalam lembaga swadaya di daerah Kedoya. Subjek dikurung selama seharian didalam sel tanpa diberikan kegiatan pelatihan keterampilan atau kegiatan apapun, selama di lembaga swada tersebut setiap anak jalanan itu diperlakukan seperti binatang yang hanya diberikan makan sekedarnya tanpa diperbolehkan untuk keluar sel sedikitpun untuk beraktivitas. Karena merasa terkekang dengan keadaan maka subjek memilih untuk melarikan diri dari sel dan kembali terjun ke lapangan menjalankan kehidupannya seperti biasa. Dari banyak penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa subjek cenderung memiliki konsep diri yang positif.
    Berikutnya adalah dimensi harapan. Pengharapan ini bersifat diri ideal artinya apapun tujuan dan harapan subjek maka subjek akan berusaha untuk menciptakan suatu motivasi baik dari dalam ataupun luar diri subjek untuk mencapainya. Dalam kasus ini subjek memiliki beberapa harapan seperti ingin menjadi atlet bola serta ingin membangun penghidupan yang lebih layak lagi di masa yang akan datang. Dalam dimensi ini subjek berusaha mewujudkan harapannya melalui tabungan yang ia buat, subjek selalu menyisihkan hasil pendapatan hariannya untuk kehidupannya dimasa datang bahkan subjek juga sudah dapat menyewa kontrakan dengan biaya sewa 150 ribu rupiah/bulan dan untuk cita-citanya menjadi atlet subjek juga sering berlatih bermain bola ditengah-tengah pekerjaan mengamennya. Pencitraan diri yang sangat positif terlihat dari kegigihannya untuk menjalanin hidup dan kebanggaannya menjadi anak jalanan.
    Dimensi yang ketiga adalah penilaian atau evaluasi. Evaluasi diri sendiri disebut sebagai harga diri yang akan menentukan sebagimana penerimaan lingkungan terhadap dirinya. Semakin jauh perbedaan penggambaran tentang diri dengan penerimaan lingkungan yang terjadi akan semakin rendah harga diri seseorang. Evaluasi terhadap diri sendiri merupakan komponen terpenting dalam hidup seorang individu.
    Subjek sebagai anak jalanan merasa bahwa banyak sekali “tudingan” negative tentang anak jalanan hingga menyebabkan penerimaan subjek dilingkungan kurang baik. Karena banyaknya individu yang memandang anak jalanan sebagai sosok kriminal membuat kesenjangan yang sangat jauh antara gambaran tentang diri subjek dengan gambaran penerimaan yang dialami subjek dan ini mengakitbatkan subjek memiliki pandangan yang rending akan harga dirinya. Ini menunjukkan adanya pencitraan diri yang negative dalam diri subjek.
    Berdasarkan penjelasan yang dilihat dari tiga dimensi tersebut, terlihat bahwa subjek memiliki kesadaran yang tinggi akan konsep dirinya. Subjek menyadari bahwa dirinya adalah seorang pengamen jalanan yang hidup dari jalanan dan menghabiskan banyak waktu di jalanan. Subjek merasa agak minder akibat penerimaan atau pemandangan sebelah mata kepada anak jalanan dan ini menimbulkan konsep diri yang negative kepada subjek.
    Ada beberapa faktor yang dapat membentuk konsep diri negative pada subjek tersebut dan dapat dianalisis melalui faktor-faktor berikut ini. Pertama faktor keluarga, setelah kematian kedua orangtuanya subjek merasa sendirian dan tidak memiliki keluarga lagi dan sebagi pelariannya ia memilih untuk hijrah ke Jakarta dan menjadi pengamen. Faktor kedua adalah teman sebaya, dimana subjek sempat bergabung dalam komunitas yang “urakan” yang membuat seubjek menjadi selalu bersikap negative namun setelah berapa lama akhirnya subjek memilih keluar dari komunitas tersebut dan ini sedikit menimbulkan pencerahan bagi konsep diri seubjek. Ada sedikit konsep diri yang positif dalam diri subjek jika di kaji dari dimensi kedua ini. Faktor ketiga adalah masyarakat, penggambaran konsep diri yang positif yang bersenjangan dengan penggambaran penerimaan yang terjadi kembali menghadirkan konsep diri yang negative pada disi subjek.

    Selasa, 18 Oktober 2011

    mengatur KESENDIRIAN

    banyak orang yang gak suka sama sendirian (jomblo mungkin lebih spesifiknya), karena kalo sendirian itu waktu yang dilewatin terasa lebih panjang dan melelahkan soalnya jamnya berasa lama jalannya padahal si itu cuma perasaan aja.
    'sendiri , sendiri dan sendiri..." hal yg sangat sederhana alias simpel bin gampang ini ternyata bisa menjadi masalah yang sangat besar bagi sebagian kalangan (mungkin gue termasuk didalamnya tapi insya allah si enggak).
    kesendirian diidentikkan dengan hal yang menakutkan, mengesalkan, bahkan menjadi simbol kesedihan. namun, jika kita mau membuka pikiran, mata serta telinga, sebenarnya kesendirian itu tidak selalu menyedihkan bahkan banyak sekali hal menarik yang mungkin bisa kita lakukan dibalik kesendirian.
    kesendirian itu memiliki banyak arti, diantaranya adalah...
    kesendirian menyangkut fisik yang sebenarnya, tanpa ada orang di sekitar kita atau kesendirian yang menyangkut perasaan doang...
    bisa jadi seseorang berada di tengah keramaian, namun merasakan kesunyian. mungkin kalian pernah mengalami hal yang serupa ?
    satu hal yang perlu di ingat, kesendirian dengan arti apapun itu bukan masalah jika kita mampu mengelolanya dengan baik, mengelola perasaan sendirian, sikap dan segala situasinya yang juga sendirian.
    bagaimana kita bisa mengelola kesendirian supaya lebih bermakna ? this is the tips for you guys
    1. cari kesibukan dengan melakukan aktivitas positif yang sangat amat teramat kalian suka, misalnya dengan membaca, menulis, olahraga. kalo dengan ngelakuin hobi kalian maka kesendirian akan terasa lebih menyenangkan.
    2. fikirkan dan ingat kembali "mimpi-mimpi" kalian yang belom kesampean.
    3. percaya, cara ini akan menyadarkan kalian bahwa betapa sempitnya waktu untuk mewujudkan segalanya.. jadi ibaratnya kalian harus "kejar tayang" untuk meraihnya dan dengan begini kesendirian gak akan terasa lagi deh, dijamin :)
    4.ini adalah inti dari segalanya yang mau gue share dan gue tulis untuk kalian semua teman-teman. hal yang paling *utama* dan yang pertama yang harus kalian lakukan adalah mendekatkan diri kepadaNya. semakin dekat kalian kepadaNya maka semakin mudah jalan kalian untuk melewati berbagai keadaan dan dalam kondisi apapun (maksudnya berdua ataupun sendiri)
    intinya, jangan biarin diri lo terjebak dalam kesendirian dengan suasana 'hati negatif', yg berlarut-larut yg bisa ngebuat lo terpuruk seterpuruknya sampe jatoh ke titik terendah dalam hidup lo, realistislah dalam menjalnkan hidup ini guys hidup gak akan pernah berenti karna KESENDIRIAN menyertai lo dan sebenrenya kalo lo semua mau buka mata lo bisa liat kalo lo sebenernya GAK PERNAH bener-bener sendiri di dunia yg seluas dan segede ini, selalu ada orangtua dan teman-teman yg peduli dan siap mendengarkan semua keluh kesah kalian.
    sisi lain dari kesendirian yg kalian alamin itu juga bisa membuat diri kalian bersikap semakin dewasa, bijaksana dan memaksimalkan potensi yg ada didalam diri kalian kalo aja kalian mau merenungkannya. bahkan mungkin selama ini "kebohongan atau pengelakan" yg sering muncul karna keegoisan dan "kelumpuhan fungsi otak" bisa mulai sedikit terkikis ditengah kesendirian yg sedang lo alamin (balik lagi syaratnya adalah perenungan diri alias meditasi).
    so guys kelolalah pikiran dan perasaan kalian dengan baik agar kalian bisa menikmati hidup kalian dengan atau tanpa siapapun serta dalam kondisi apapun. buatlah ketenangan diri didalam kesunyian suasana yg ada untuk sejenak melihat dan berfikir akan diri kita dengan realistis tanpa memenangkan sisi emosional diri kita.