Selasa, 03 Juli 2012

Musik Instrumental


23 Juni 2012, 23:00

Musik instrumental adalah musik yang berisikan suara alat musik aja tanpa ada lirik atau suara vokal dari penyanyi. Musik instrumental serupa dengan musik klasik, karna biasanya musik klasik juga gak ada liriknya.
Mendengarkan musik instrumental itu sarat akan manfaat loh teman-teman, di antaranya manfaat yg sangat populer itu musik instrumental  itu bisa membuat si pendengarnya merasa relaks. Terbukti, pada James Medical Center di Ohio State University, para ahli bedah sekarang ini banyak yang menggunakan musik instrumental untuk memberikan efek relaksasi kepada pasien selama proses pembedahan maupun setelah proses pembedahan berlangsung. 
Musik instrumental juga bisa meningkatkan kecerdasan dan memberi dampak positif bagi pendengarnya.  Riset membuktikan bahwa musik klasik dapat meningkatkan perkembangan otak pada janin dalam kandungan karna musik instrument klasik ini membantu menghubungkan "jalur-jalur" kecerdasan di otak. Itu kenapa banyak ibu-ibu hamil yg sering mendengarkan musik instrument klasik saat masa kehamilan. Bukti lainnya dibuktikan pada murid yang mendengarkan "mozart" sebelum ujian mendapatkan nilai yang lebih baik daripada murid yang lainnya. Melalui pengalaman gue pribadi, musik instrumental selalu bisa membuat gue menghafal suatu pelajaran lebih cepat dan lebih awet tersimpan di otak. Kenapa bisa begitu? karna musik instrumental bisa membuat alam bawah sadar si pendengar merasa tenang dan membuatnya lebih fokus terhadap sesuatu yang dikerjakan.
Lebih dari itu musik instrumental bisa membuat pendengarnya menjadi lebih sehat. Victoria Abreo mengatakan “untuk pasien yang mempunyai masalah jantung, akan mendapatkan manfaat yang sama dengan mengkonsumsi 10mg obat penenang Valium dari mendengarkan musik instrumental selama 30 menit, khususnya musik instrumental klasik”. Musik instrumental yang dikolaborasikan teknik-teknik meditasi dapat terbukti bisa menurunkan frekuensi dan intensitas detak jantung yang berdegup dengan cepat atau rasa sakit di kepala.
Ini adalah musik instrumental yang sering gue dengerin :
  • Saxophone - Dave Koz
  • Saxophone - Kenny G
  • Biola - Bond
  • Biola - Vivaldi
  • Piano - Mozart
  • Piano - Bethoven


Sumber bantuan :
-   http://aditiarahargian.com/?p=52

Rabu, 25 April 2012

STREEESSSS

       Semua manusia pasti pernah mengalami stres, mulai dari anak kecil hingga orang tua. Anak kecil mungkin stres karna dimarahi oleh orangtuanya, remaja mungkin mengalami stres karna terjadi konflik dengan teman sepermainannya sementara orang tua mungkin stres karna tuntutan hidup yang harus terus dipenuhi. Penyebab stres banyak dan beragam begitu juga dengan respon yang dikeluarkan saat menghadapi stres. Lalu seperti apakah stres itu? Apa sajakah faktor penyebab dan dampak dari stres? Berikut pembahasannya.
1.  Pengertian stres
       Menurut Atkinson, stres terjadi apabila seseorang dihadapkan pada situasi yang mereka rasakan sebagai ancaman kesehatan fisik maupun kesehatan psikologisnya. Peristiwanya diberi nama stresor, sementara reaksinya disebut dengan stres.
    Menurut Lazarus, stres adalah kecemasan atau perasaan yang mengancam yang datang ketika kita memperkirakan suatu situasi yang melebihi kemampuan psikologis kita untuk dapat mengatasinya.

@  Akibat stres
    Stres dapat menimbulkan efek yang berbeda pada setiap orang yang mengalaminya. Cox mengkatagorikan lima kategori akibat stres :
 -  Akibat subjektif  :  akibat yang dirasakan secara pribadi oleh penderita stres. Meliputi kegelisahan, agresi, depresi, dll.
-  Akibat perilaku  :  akibat yang mudah dilihat karna berbentuk perilaku tertentu. Misalnya peledakan emosi, berperilaku impulsif, penyalahgunaan obat berbahaya, dll.
-  Akibat kognitif  :  akibat yang mempengaruhi proses berfikir. Meliputi tidak bisa mengambil keputusan, tidak bisa konsentrasi, mengalami rintangan mental, dll.
-  Akibat fisiologis  :  akibat yang berhubungan dengan fungsi alat tubuh. Misalnya denyut nadi cepat, berkeringat, gula darah naik, dll.
-  Akibat keorganisasian  :  akibat yang tampak pada tempat kerja. Meliputi absen, ketidakpuasan kerja, mengasingkan diri, dll.

@  General Adaptation Syndrom
      Teori ini dipopulerkan oleh Selye. Ia berpendapat "tubuh berekasi secara sama ketika menghadapi stres, tidak peduli apapun bentuk stresornya". Artinya pertahanan tubuh terhadap stresor akan bereaksi sama pada setiap orang yang berbeda, ini dilakukan untuk melindungi organisme dan menjaga integritasnya. Pendapat lainnya adalah "apabila stres berlangsung lama maka pertahanan fisiologisnya pun berlangsung lama bahkan mengalami peningkatan". Hal itu dapat menyebabkan timbulnya "penyakit adaptasi" yaitu penyakit/gangguan yang terjadi sebagai akibat dari adaptasi yang dilakukan terhadap stres yang berkepanjangan. Berikut ini adalah fase-fase terjadinya stres.
    Fase-fase respon tubuh terhadap stres

@  Faktor penyebab stres
   Penyebab stres pada setiap orang berbeda-beda. Banyak hal dapat menimbulkan stres, mulai dari aktivitas sehari-hari kecil yang terjadi secara terus-menerusseperti macet atau bahkan kejadian alam yang tidak terduga seperti gempa bumi.



2.   Tipe-tipe stres
1.  Tekanan
    Tekanan bersumber pada tuntutan kehidupan sehari-hari. Tekanan ada yang berasal dari dalam diri sendiri dan dari luar individu tersebut.

2.  Frustasi
   Frustasi terjadi bila antara harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai. Frustasi juga bisa terjadi apabila keinginan terhambat oleh suatu rintangan. Misalnya nilai jelek, diomelin orangtua dan ada masalah dengan teman merupakan runtutan kejadian yang dapat menimbulkan frustasi.

3.  Konflik
 Konflik merupakan respon dari ketidakmampuan memilih dan memutuskan apa yang diinginkan atau dibutuhkan. Saat individu dihadapkan pada beberapa pilihan didalam suatu situasi maka akan terjadi pertentangan dalam diri individu untuk memilih, pertentangan itulah yang disebut dengan konflik. Konflik dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
a)  approach-approach conflict
b)  approach-avoidant conflict
c)  avoidant-avoidant conflict

4.  Kecemasan
    Kecemasan merupakan respon populer dari stres. Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang sering diungkapkan dengan istilah takut, kuatir dengan derajat yang berbeda-beda pada setiap orangnya.
    Orang yang mengalami peristiwa diluar batas kemampuannya akan mengalami kecemasan yang berhubungan erat dengan kecemasan yang disebut dengan gangguan stres pasca-traumatik.  Gejala utama dari gangguan stres pasca-traumatik antara lain :
a)  Mati rasa terhadap dunia ditandai dengan hilangnya minat.
b)  Menghidupkan trauma secara berulang-ulang.
c)  Gangguan tidur, sulit berkonsentrasi dan kesiagaan yang berlebihan.



3.  Sympthom reducing responses terhadap stres
@  Mekanisme pertahanan diri
    Sigmund Freud memperkenalkan istilah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Mekanisme pertahanan disi adalah strategi yang tidak disadari untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengurangi rasa stres melainkan memikirkan situasi yang sedang terjadi. Defense mechanism dilakukan secara tidak sadar apabila dilakukan secara berlebihan akan berubah menjadi perilaku yang disadari tetapi bersifat mal adaptif. Berikut ini adalah jenis-jenis defense mechanism :
 a) Represi
    Dalam represi, impuls yang menimbulkan rasa malu, rasa bersalah, atau perasaan ingin mencela diri sendiri akan ditekan masuk ke dalam pikiran bawah sadar. 

 b) Rasionalisasi
  Rasionalisasi disini tidak diartikan berfikir secara rasional melainkan menggunakan motif yang dapat diterima oleh logika yang dilakukan sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bertindak secara rasional. Tujuan rasionalisasi dalam menghadapi stres adalah menghilangkan kekecewaan saat kita gagal mencapai apa yang kita inginkan dan merasionalisasikan apa yang telah kita lakukan untuk menempatkan perilaku kita dalam pandangan yang lebih menguntungkan.

 c) Pembentukkan reaksi
  Pembentukkan reaksi adalah melakukan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya. Misalnya, seorang ibu muda yang sebenarnya belum siap untuk memiliki anak menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya secara berlebihan untuk meyakinkan bahwa ia adalah ibu yang baik.

 d) Proyeksi
    Proyeksi adalah menutupi kekurangan dalam diri dengan mencari "kambing hitam" untuk kekurangan tersebut atau dengan kata lain menempatkan kekurangan yang dimiliki dalam diri kepada orang lain.

 e) Penyangkalan
   Penyangkalan adalah upaya untuk menolak kenyataan negatif pada diri. Misalnya penolakkan kenyataan bahwa pasangan berselingkuh. Bentuk penyangkalan yang terlalu ekstrim/berlebihan akan membuat seseorang menjadi "kebal" terhadap kritikan tentang dirinya.

 f) Intelektualisasi
    Intelektualisasi adalah upaya positif yang dilakukan dalam menghadapi stres. Intelektualisasi dilakukan dengan menggunakan istilah yang abstrak dan intelektual. Cara ini sering dilakukan oleh orang yang harus menghadapi kondisi mendesak dalam pekerjaannya. Contohnya adalah saat seorang psikolog menggunakan istilah psikologi untuk menyembuhkan pasiennya padahal tidak semua orang mengetahui istilah tersebut.

 g) Pengalihan
  Metode pertahanan diri ini dianggap dapat menurunkan tingkat kecemasan dan dapat memuaskan motif yang tidak dapat diterima dengan cara mengalihkannya ke tempat lain. Misalnya, dorongan seksual yang tidak sesuai dengan situasinya akan dialihkan dengan berolahraga.

@  Strategi coping
    Selain cara-cara dalam mekanisme pertahanan diri juga ada strategi coping dalam menghadapi stres. Coping adalah kemampuan mengatasi masalah. Ada banyak jenis coping, bahkan para ahli pun memiliki pandangan yang berbeda mengenai coping.
   Secara umum coping dibagi menjadi dua bentuk yaitu Strategi terfokus masalah (Problem Focus Coping) dan Strategi terfokus emosi (Emotional Focus Coping).  Problem Focus Coping adalah upaya yang terfokus secara spesifik pada masalah yang telah terjadi sambil mencoba untuk mencari penyelesaiannya. Cara yang biasa dilakukannya adalah menentukan masalah, mencari pemecahan alternatif, menimbang pemecahan alternatif yang terbaik, memilih pemecahan terbaik dan mengaplikasikannya pada masalah yang terjadi. Sementara Emotional Focus Coping adalah upaya untuk mencegah emosi negatif menguasi diri. Terdapat perbedaan pandangan dalam mengkatagorikan Emotional focus copingdibagi ke dalam dua kategori yaitu strategi perilaku (latihan fisik untuk mengalihkan masalah) dan strategi kognitif (menyingkirkan pikiran tentang masalah tersebut untuk sementara) (Moss, 1988 dalam Atkinson 1993 : 370) dan pandangan lain membagi emotional focus coping ke dalam strategi perenungan (mengisolasi diri untuk merenungkan betapa buruknya emosi kita), strategi pengalihan (melibatkan diri dalam aktivitas yang menyenangkan) dan strategi penghindaran negatif (mengalihkan emosi kita pada aktivitas yang memberatkan mood atau menantang) (Nolen - Hoeksema dalam Atkinson 1993 : 380).
Berikut ini adalah beberapa macam coping menurut tokoh lainnya
1)   Lazzarus
      Lazzarus membagi coping kedalam dua bentuk, yaitu :
a)  Tindakan langsung (Direct Action)
yaitu usaha tingkah laku yang dijalankan oleh individu untuk mengatasi tantangan dengan mengubah hubungan yang bermasalah dengan lingkungan. Tindakan langsung ini dibagi menjadi empat macam :
-  Mempersiapkan diri menghadapi luka  :  individu melakukan langkah aktif untuk mengurangi luka serta tindakan antisipasi.
-   Agresi  :  tindakan menyerang agen yang dinilai mengancam.
-   Penghindaran  :  melarikan diri dari situasi yang mengancam.
-  Apati  :  tidak bergerak dan melalukan apapun sebagai upaya menghindari masalah atau dengan kata lain menerima dengan pasrah hal yang akan mengancam.
b) Peredaan (Palliation)
Lebih mengacu pada usaha untuk mengurangi atau menoleransi tekanan-tekanan kebutuhan/fisik. Jenis coping ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
-   Diarahkan pada gejala (Symptom Directed Modes)  :  jenis coping ini dilakukan dengan cara mengurangi gangguan yang berhubungan dengan emosi-emosi yang disebabkan oleh tekanan.
-   Cara intrapsikis (Intrapsychic  Modes)  :  coping ini serupa dengan cara-cara yang terdapat di mechanism defenses.

2)   Harber & Runyon
      Harber dan Runyon mengemukakan jenis-jenis coping yang konstruktif, yaitu : 
-  Penalaran  :  penggunaan kemamouan kognitif untuk mencari berbagai alternatif penyelesaian masalah.
-  Objektifitas  :  kemampuan membedakan komponen emosional dan logis dalam berfikir dan bertingkahlaku.
-  Konsentrasi  :  kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada masalah yang sedang dihadapi.
-  Humor  :   melihat sisi lucu pada masalah yang sedang terjadi sehingga dapat mengubah perspektif persoalan tersebut menjadi lebih lebih mudah dan terang sehingga tidak dirasakan sebagai tekanan lagi.
-  Supresi  :  kemampuan untuk menekan reaksi terhadap masalah sehingga memberikan cukup waktu untuk merespon masalah secara konstruktif.
-  Toleransi  :  kemampuan memahami kehidupan yang penuh dengan ketidakjelasan sehingga "melonggarkan hati" untuk menerima ketidakjelasan tersebut.
-  Empati  :  kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain.

3)   APA
     APA dalam DSM-IV mengatakan bahwa coping yang sehat merupakan bentuk penyesuaian diri yang paling tinggi dan baik. Selain supresi, sublimasi dan humor APA juga menyebutkan beberapa jenis coping sehat lainnya, antara lain adalah : 
Antisipasi  :  berkaitan dengan kesiapan seorang individu menghadapi suatu masalah.
-   Afiliasi  :  berhubungan dengan kebutuhan individu akan orang lain (keinginan bersatu).
-   Altruisme  :  mementingkan kepentingan orang lain. Pengalihan masalah dengan pengabdian terhadap orang lain.
Penegasan diri  :  mengekspresikan perasaan dan pikiran secara langsung tetapi tidak memaksa.
Pengamatan diri  :  melakukan pengujian secara objektif pada proses-proses kesadaran diri sendiri.

@  Menghadapi stres "minor"
     Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa terdapat banyak sekali cara untuk mengatasi stres. Tingkatan stres berbeda-beda tergantung setiap orang yang mempersepsikan stres tersebut, lalu bagaimanakah cara mengatasi stres "minor"?
   Gejala stres "minor" dapat dicegah melalui obat-obatan, namun penggunaan obat secara terus menerus akan menimbulkan efek samping yang lain untuk kesehatan kita. Biofeedback merupakan teknik yang dapat digunakan untuk menghadapi stres minor. Biofeedback dilakukan dengan serangkaian alat tes yang cukup rumit, hal ini dilakukan sebagai umpan balik pada bagian tubuh tertentu. Biofeedback merupakan teknik untuk mengetahui bagian tubuh mana yang terkena stres dan belajar untuk menguasainya.
    Olahraga dan istirahat yang cukup menjadi cara yang paling simple untuk mencegah terjadinya stres. Jika sudah terkena stres relaksasi dan meditasi bisa dilakukan untuk mengurangi rasa stres yang dialami.  Relaksasi dan meditasi dilakukan dengan melemaskan otot-otot seluruh tubuh yang sering terkena stres.

Sumber : 
1.  Bahan ajar kuliah psikologi umum semester dua dari Prof. Heru
2. Siswanto, 2007. Kesehatan Mental, Yogyakarta : Andi Yogyakarta

Rabu, 04 April 2012

Percaya diri

Kepercayaan diri adalah sikap seseorang yang mampu memaksimalkan dan mengembangkan apa yang ada didalam dirinya serta mengontrol keadaan diluar dirinya. Rasa percaya diri adalah kumpulan dari aspek kompetensi, yakin, mampu dan percaya karna didukung oleh pengalaman, potensi, prestasi serta harapan.

Ciri-ciri orang yang memiliki percaya diri secara proporsional antara lain :
1.   Percaya akan kemampuan sendiri sehingga tidak memerlukan pujian atau pengakuan
2.   Berani akan penolakan
3.   Memiliki pengendalian diri yang baik
4.   Memiliki cara pandang positif terhadap diri sendiri
5.   Memiliki harapan yang realistis terhadap diri sendiri
  
Kepercayaan diri tidak didapat dengan cara yang instan melainkan melalui proses yang panjang alias sejak usia dini melalui bimbingan orangtua. Faktor pola asuh dan interaksi dengan dunia sekitar di usia dini merupakan dasar awal yang menentukan apakah seorang anak akan menjadi percaya diri atau tidak meskipun faktor lainnya juga berpengaruh.


Percaya diri VS Narsisme

       Orang yang memiliki kepercayaan diri secara berlebihan juga gak bagus ternyata, kenapa? Karna ternyata akan menimbulkan sikap narsis. Orang yang memiliki karakter narsistik memandang dirinya secara berlebihan atau lebay kalo kata anak sekarang. Orang yang narsistik senang menyombongkan diri dan sangat senang akan pujian. Narsistik ini biasanya menyerang pada remaja dan akan menimbulkan sifat yang sangat oerhatian sekali akan diri sendiri dan parahnya akan muncul yang namanya “imaginary audience” atau perasaan semua orang memperhatikan kalian.
          Lima hal yang menyebabkan narsisme adalah kecenderungan harapan diperlakukan khusus, gak bisa berempati, gak punya kontrol moral yang kuat, kurang dapat menunjukkan kasih sayang dan biasanya gak rasional.
      Dan inilah tanda-tanda orang yang memiliki kecenderungan narsisme : 
  •  Merasa dirinya penting dan ingin dikenal oleh banyak orang karna kelebihannya
  •  Keyakinan yang berlebihan akan diri, merasa dirinya sangat unik dan istimewa
  •  Haus akan pujian dan perhatian
  •  Kurang peka terhadap kebutuhan orang lain
  •  Sensitif akan kritik

Senin, 02 April 2012

Pikiran negatif dan Pikiran Positif

Banyak orang dengan mudah mengatakan "positive thinking" atau "jangan negatif dulu kalo mikir tentang seseorang". Tanpa sadar kebanyakkan orang selalu mengambil pikiran yang negatif. Lalu bagaimana bisa terjadi pikiran negatif dan positif ? Mari kita  ulas semuanya satu per satu, let's starting friends . . .
  1.  Pikiran Negatif 
           Pikiran negatif menjadi hal yang sangat mudah dilakukan tetapi sangat dibenci oleh kebanyakkan orang, kenapa ? Karna pikiran negatif merupakan awal dari rangkaian penderitaan hidup seseorang. Dimulai dari pikiran yang negatif, perasaan negatif, perilaku negatif maka akan menghasilkan sesuatu yang negatif seperti sakit mental, sakit fisik, merasa kesepian ataupun keterasingan serta ketakukan adalah yang paling bahaya.
           Pikiran negatif berupa bisikan yang muncul dalam diri manusia (sama halnya dengan pikiran positif) yang menjadikan pikiran negatif "BERBAHAYA" adalah proses pengulangan dan pemupukannya di pikiran yang akhirnya menimbulkan kebiasaan dan itulah kenapa pikiran negatif merupakan awal dari penderitaan tiada akhir. Pikiran negatif sejatinya mencari dan memikirkan hal-hal negatif di masa lalu yang dimunculkan kembali sehingga menimbulkan rasa cemas dan takut. Walaupun bertemu dengan seseorang yang "positif" seseorang yang memiliki pikiran negatif akan tetap memunculkan imajinasi negatifnya.

    • Faktor-faktor penyebab pikiran negatif
    • Dampak pikiran negatif
                Empat dampak dari pikiran negatif adalah prinsip menyerang atau lari, tiga pembunuh, memperkuat ego yang paling rendah dan kekuatan pikiran negatif. Mari kita ulas beberapa dampak tersebut :
      •  Respon menyerang atau lari
        Respon lari berhubungan dengan rasa takut sementara respon menyerang berhubungan dengan rasa marah. Keduanya dilatarbelakangi oleh pikiran negatif yang membuat seseorang dapat berfikir tidak logis.
      •  Tiga pembunuh
        Terdiri dari mencela, mengkritik dan membandingkan. Mencela, saat mencela maka seseorang berada didalam posisi "bertahan". Celaan membuat seseorang merasa menjadi racun dalam dirinya hingga ia merasa sangat sedih. Mengkritik, jika dalam mengkritik kita tidak menggunakan kalimat yang pas untuk mengkritik maka orang yang dikritik akan merasa tidak berguna dan tidak berarti maka dari itu kritik bisa berdampak negatif. Dan pembunuh yang terakhir adalah membandingkan. Membandingkan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu : membandingkan diri sendiri dengan orang lain, membandingkan kondisi diri sendiri saat ini dengan kondisi masa lalu, membandingkan orang tertentu dengan orang lain.
  2.  Pikiran Positif
              Pikiran positif dibagi menjadi lima, yaitu : berpikir positif untuk menguatkan cara pandang, berpikir positif karna pengaruh orang lain, berpikir positif karna momen tertentu, berpikir positif saat menghadapi kesulitan dan selalu berpikir positif.
                Berikut ini adalah ciri-ciri orang yang memiliki pikiran yang positif :
    1. Beriman dan bertawakal kepada Allah
    2. Memiliki nilai-nilai luhur
    3. Memiliki cara pandang yang jelas
    4. Keyakinan dan proyeksi positif
    5. Selalu berjuang mencari jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi
    6. Mengambil pelajaran dari setiap masalah
    7. Tidak terpengaruh oleh masalah
    8. Percaya diri, menyukai perubahan dan tantangan
    9. Hidup dengan cita-cita, perjuangan dan kesabaran
    10. Pandai bergaul dan suka membantu orang lain
               Tiga kekuatan dalam pikiran positif bersumber pada keseimbangan dan pikiran positif dalam hidup. Terdiri dari keputusan, pilihan dan tanggungjawab.
    1.  Keputusan
      Lima dasar dalam mengambil keputusan, yaitu : berpikir, konsentrasi, merasakan, perilaku dan memperbaiki.
    2.  Pilihan
      Seluruh aspek kehidupan ini adalah hasil pilihan di masa lalu. Anda yang akan menentukan menjadi apa dan bagaimana anda di kehidupan mendatang. Apa yang anda kerjakan adalah pilihan awal anda dalam pikiran.
    3.  Tanggungjawab 
      Banyak orang menyadari keputusan dan pilihannya tetapi sedikit orang yang berani bertanggungjawab atas perbuatannya. Tanggungjawab disini artinya menghindari sikap menyalahkan pihak lain, mengkritik pihak lain dan membanding-bandingkan orang lain.

      Berikut ini adalah tujuh prinsip berpikir positif :



      Sumber : 
      Elfiky, Ibrahim, 2009. Terapi Berfikir Positif, Jakarta : Zaman

Psikodiagnostik (v-class)

Berdasarkan Materi 'Proses&Metode dalam Psikodianostik', ada beberapa kesalahan dalam proses informal dari sisi penilai, yaitu hearsay, hallo effect, stereotipe, leneincy effect, mood, dan Proyeksi.
Jelaskan dan berikan contohnya masing-masing!

  1. Hearsay
         Hearsay  :  Informasi yang dikumpulkan oleh satu orang dari orang lain tentang peristiwa, kondisi atau hal dimana orang ;pertama tidak memiliki keahlian atau pengalaman langsung.  
              Contoh : kabar burung atau gosip


  2. Hallo effect
         Hallo effect  :   Bias kognitif yang melibatkan satu sifat mempengaruhi orang lain dalam penilaian seseorang mengenai orang lain.
    Contoh : seseorang laki-laki yang kemayu bukan berarti dia seorang homo
  3. Stereotipe
         Stereotipe  :  Penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok dimana orang tersebut dapat dikategorikan.
    Contoh : persepsi
  4. Leneincy effect
          Leneincy effect  :  Persepsi kesulitan dimana kita memberikan lebih penting untuk sifat-sifat positif seseorang dan memberikan pentingnya dengan sifat-sifat negatif. Ini lebih seperti orang peringkat positif lebih dari biasa.
    Contoh : 
  5. Mood
         Mood  :  Keadaan yang relatif lama, emosional dan abadi atau suasana hati.
    Contoh : perasaan cemas yang akhirnya membuat seseorang ketakutan
  6. Proyeksi
         Proyeksi  :   Mengatribusikan pikiran, perasaan atau motif yang tidak dapat diterima kepada orang lain, mengatakan bahwa impuls-impuls ini dimiliki oleh orang lain diluar sana tidak oleh saya.
    Contoh : Si A memiliki perasaan kepada si B tetapi si A mengatakan bahwa si B lah yang menyukai si A

Minggu, 18 Maret 2012

Kesehatan Mental 1

Sehat? Seperti apa sih kategori orang yang sehat itu? Apa mungkin jarang sakit atau tidak cacat? Mampu berfikir secara logis? Atau orang yang tidak pernah kesurupan? Mungkin masing-masing dari kita merasa pribadi yang sehat secara fisik, namun apakah orang yang sehat secara fisik juga pasti sehat secara psikologis? Seperti apakah konsep sehat secara psikologis? Tulisan saya berikut ini akan menjelaskan tentang Konsep Sehat, Kepribadian Sehat, Sejarah Kesehatan Mental serta Perkembangan Kepribadian. Apakah kalian sudah merasa menjadi pribadi yang sehat? Mari kita mulai mengulas satu-satu materi yang akan kita bahas. Lets start from now guys . . .


A. Sehat secara psikologis
Mencari pengertian sehat secara psikologis sangat sulit karna setiap ahli memiliki pandangannya yang berbeda-beda. Menurut saya pribadi, sehat adalah individu yang berada dalam batasan normal baik secara jasmani rohani atau individu yang memiliki kestabilan IQ, EQ dan SQ. Orang yang memiliki kestabilan IQ biasanya memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik atau lebih dari baik (dalam istilah psikologi tergolong dalam kecerdasan average, high average, superior atau very superior). Orang yang memiliki kestabilan EQ dapat terlihat dari kemampuannya mengontrol emosi baik emosi yang bersifat positif maupun emosi yang bersifat negatif atau kemampuannya “mengekspresikan” perasaan (marah, sedih ataupun senang) secara tidak berlebihan. Sementara orang yang memiliki kestabilan SQ terlihat dari aura wajahnya yang dipancarkan.
Berikut ini adalah pengertian sehat secara psikologis menurut beberapa ahli psikologi :
Menurut Allport orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang matang. Allport berpendapat “kepribadian yang sehat tidak dibimbing oleh kekuatan-kekuatan tak sadar atau pengalaman masa kanak-kanak” artinya manusia tidak didorong oleh kekuatan pengalaman masa lampau melainkan didorong oleh rencana atau intensi kita untuk masa depan. Adapun tujuh kriteria kematangan menurut Allport adalah perluasaan perasaan diri, hubungan diri yang hangat dengan orang lain, keamanan emosional, persepsi realistis, keterampilan dan tugas-tugas, pemahaman diri serta filsafat hidup yang mempersatukan.
Menurut Rogers orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang berfungis sepenuhnya. Ada tiga hal yang diungkapkan oleh Rogers yaitu keprribadian sehat adalah suatu arahan bukan sebuah proses, aktualisasi diri merupakan suatu proses dan yang ketiga adalah diri mereka sendiri. Dari ketiga pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kepribadian sehat adalah sebuah proses. Adapun lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya adalah keterbukaan terhadap pengalaman, kehidupan eksistensial, kepercayaan terhadap organisme orang sendiri, perasaan bebas dan kreativitas.
Konsep sehat berikutnya dijelaskan oleh Maslow. Dimana Maslow menggambarkan pribadi sehat melalui orang-orang yang mampu mengaktualisasikan diri. Secara umum orang yang dapat mengaktualisasikan diri memiliki ciri-ciri sebagai berikut mendapatkan seluruh kebutuhan dari piramida kebutuhan yang juga diungkapkan oleh Maslow, terbebas dari gangguan patologis, mengetahui diri mereka secara jujur. Maslow juga memberikan sifat khusus yang dapat menggambarkan pengaktualisasian diri, yaitu : mengamati realitas secara efisien, penerimaan umum atas kodrat, spntanitas kesederhanaan kewajaran, fokus pada masalah di luar diri mereka, kebutuhan akan privasi dan independensi, berfungsi secara otonom, apresiasi yang senantiasa segar, pengalaman-pengalaman mistik, minat sosial, hubungan antarpribadi, stuktur watak demokratis, perbedaan antara saran dan tujuan baik dan buruk, perasaan humor, kreativitas, resistensi terhadap inkulturasi.
Menurut Fromm orang yang memiliki konsep sehat adalah orang yang produktif. Fromm menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif yakni kepribadian matang yang diungkapkan oleh Allport dan orang yang mengaktualisasikan diri menurut Maslow. Konsep itu menggambarkan “penggunaan” manusia secara penuh dari potensi yang dimilikinya. Melalui kata “orientasi”, Fromm mencoba menggambarkan suatu sikap umum yang meliputi semua segi kehidupan, respon intelektual, emosional dan sensoris. Empat segi tambahan yang menjelaskan orientasi produktif dari Fromm adalah cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan dan suara hati.
Sementara menurut Jung orang yang memiliki karakter sehat adalah orang yang terindividuasi. Syarat pertama individuasi adalah orang menyadari segi-segi diri yang telah diabaikan. Jung merumuskan proses individuasi sebagai proses menjadi seseorang yang unik, satu ada yang homogen. “Individuasi” artinya menjadi diri atau realisasi diri. Dimana individuasi bersifat instinktif yaitu suatu tujuan yang jarang dapat dipenuhi. Untuk bergerak menuju individuasi, individu harus melepaskan tingkah laku-tingkah laku, nilai-nilai dan pikiran-pikiran yang membimbing setengah bagian pertama dari kehidupan dan sampai kepada ketidaksadaran.
Menurut Frankl orang yang sehat adalah orang yang mengatasi diri. Frankl percaya bahwa hakikat manusia terdiri dari tiga, yaitu : spiritualitas, kebebasan dan tanggungjawab. Menurutnya dorongan utama manusia hidup adalah mencari bukan diri melainkan “melupakan” diri kita. Orang yang sehat secara psikologis telah bergerak ke luar melampaui fokus pada dirin sendiri, menjadi sesuatu diluar diri sendiri.
Dan terakhir yang memberikan gambaran tentang konsep sehat adalah Perls. Perls tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai orang yang sehat namun ia memberikan pandangannya yang berbunyi “orang disini dan kini”. Orang yang sehat secara psikologis memiliki kesadaran dan penerimaan penuh terhadap diri mereka siapa dan apa. Mereka menerima kelebihan dan kekurangan mereka sebagai manusia bahkan mereka mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk menutupi kekurangannya.
Dari berbagai pandangan para ahli psikologi yang mengungkapkan konsep sehat sangat sulit untuk menemukan persamaan konsep sehat secara pasti. Namun kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang sehat memiliki kemampuan untuk mengontrol kehidupan mereka secara sadar walaupun tidak secara rasional, mengetahui diri mereka dengan “siapa dan apa”, bersandar pada kekuatan masa sekarang dan tidak hidup pada masa lalu atau lebih cenderung ke masa depan, selalu merindukan tantangan dan kegembiraan.
 
Dimensi kesehatan dibagi menjadi lima, yaitu :
1. Jasmani : Orang yang memiliki kesehatan jasmani sangat mudah untuk dinilai. Orang yang memiliki kesehatan jasmani dapat terlihat dari fisiknya yang todak mudah sakit dan wajah yang fresh.
2. Rohani : Orang yang memiliki kesehatan secara rohani sudah jelas terlihat dari ketaatannya dalam beribadah.
3. Emosi : Sangat sulit untuk menentukan seseorang memiliki kesehatan baik atau tidak secara emosi namun hal yang paling mudah untuk diamati adalah kestabilan dalam mengungkapkan perasaan artinya seseorang selalu dalam batasan wajar dan tidak berlebihan dalam berekspresi baik emosi positif maupun emosi negatif.
4. Kognitif : Orang yang sehat secara kognitif adalah orang-orang yang memiliki IQ baik hingga tingkatan diatasnya.
5. Spiritual :Orang yang berspiritual baik terlihat dari aura serta kenyamanan bagi setiap orang yang memandangnya.


B. Sejarah Kesehatan Mental
Lalu bagaimanakah sejarah tentang penyakit mental? Siapa sajakah tokoh yang sudah berjasa "mempublikasikan" kesehatan mental? Awalnya penyakit mental hanya dianggap bukan penyakit lalu ada beberapa tokoh yang mengatakan bahwa penyakit mental adalah sebuah penyakit sampai akhirnya terbentuk sebuah Lembaga yang mewadahinya. Berikut ini adalah ulasan lengkapnya.
A. Gangguan mental tidak dianggap sebagai penyakit
 Tahun 1600 (dan sebelumnya) : Orang yang sakit secara mental dahulu kala dianggap sebagai “orang yang kesurupan”. Mengapa demikian? Karena orang jaman dulu menganggap orang yang mengalami gangguan mental adalah orang-orang yang dimasuki oleh roh-roh. Maka dari itu penyembuhannyapun juga melalui healer, shaman atau penyembuh yang lebih dikenal dengan istilah dukun.
 Tahun 1692 : Di Amerika, orang yang mengalami gangguan mental dianggap sebagai orang-orang yang terkena sihir atau dirasuki setan. Di Inggris, orang yang mengalami gangguan mental disamakan dengan penjahat kriminal sehingga si penderita dimasukkan ke dalam penjara.

B. Gangguan mental dianggap sebagai penyakit
 Tahun 1724 : Pendeta Cotton Mather menjelaskan masalah kejiwaan yang menyebabkan gangguan yang terjadi di dalam tubuh sekaligus mematahkan takhayul yang berkembang selama ini.
 Tahun 1812 : Benjamin Rush menjadi orang pertama yang mencoba menangani penyakit mental secara manusiawi. Sementara itu di Inggris, muncul optimisme dalam menangani pasien sakit jiwa dengan perkembangan teori dan teknik untuk menangani orang sakit jiwa ini di rumah sakit. walaupun dalam prakteknya sering mengalami kegagalan sehingga lambat launpun muncul masa terapi pesimisme.
 Tahun 1908 : Clifford Beers yang pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa dengan penanganan yang benar maupun yang salah mengeluarkan buiku “A Mind That Found Itself”. Buku tersebut langsung memberikan efek yaitu menyebarkan visinya mengenai gerakan kesehatan mental. Beers lalu mendirikan Masyarakat Connecticut yang merupakan akar dari Asosiasi Kesehatan Mental Nasional.
 Tahun 1910 : Emil Kraepelin pertama kali mengemukakan penyakit Alzheimer dan alat tes untuk mendeteksi gangguan epilepsi.
 Tahun 1920-an : Komite Nasional untuk Mental Higiene menghasilkan satu set model undang-undang komitmen selain itu komite membantu penelitian-penelitian yang berpengaruh pada kesehatan mental dan treatment.
 Tahun 1936 : Agas Moniz mempublikasikan laporan lobotomi frontal manusia yang pertama.
 Tahun 1940-an : Penggunaan elektoterapi di rumah sakit Amerika. Elektroterapi adalah terapi dengan cara mengaplikasikan listrik ke otak.
 Tahun 1947 : Fountain House memulai rehabilitasi psikiatrik untuk orang yang mengalami sakit mental.
 Tahun 1950 : Dibentuknya National Association of Mental Health (NAMH) untuk melanjutkan mendidik publik Amerika pada isu-isu kesehatan mental dan mempromosikan kesadaran akan kesehatan mental.
 Tahun 1952 : Obat antipsikotik konvensional pertama, chlorpromazine diperkenalkan untuk pertama kalinya dan digunakan untuk menangani pasien skizofrenia dan gangguan mental utama lainnya.
 Tahun 1960-an : Pengenalan obat-obat antipsikotik konvensional. Selain itu media Inggris juga mengungkapkan kesehatan mental melalui orang-orang yang pernah mengalaminya.

C. Gangguan mental dianggap sebagai bukan penyakit
 Tahun 1961 : Thomas Szasz mengemukakan teori yang menyatakan “sakit mental” tidaklah benar-benar “sakit” tetapi merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan.
 Tahun 1970 : Mulainya deinstitusionalisasi massal.
 Tahun 1979 : NAMH menjadi the National Mental Health Association (NAMH).
 Tahun 1980 : Muncul perawatan terencana, opname dirumah sakit dalam waktu pendek dan treatment masyarakat sebagai standart penyembuhannya.


C. Perkembangan Kepribadian
Selanjutnya saya akan mengulas tentang perkembangan kepribadian. Ada banyak teori tentang perkembangan kepribadian, kali ini saya akan membahas perkembangan kepribadian menurut Sigmund Freud dan Erick H Erikson. Teori kepribadian Freud biasa dikenal dengan teori psikologi seksual karna menitikberatkan pada libido sementara teori perkembangan kepribadian dari Erikson dikenal dengan psikologi sosial karna memperhatikan pengaruh dari lingkungan. Sekarang mari kita ulas kedua teori itu secara lengkap.
A. Teori Perkembangan Kepribadian Sigmund Freud
Freud berpendapat bahwa kepribadian telah cukup terbentuk pada akhir tahun kelima. Menurutnya fase-fase perkembangan individu didorong oleh energi psikis yang disebut libido. Libido adalah energi psikis yang bersifat seksual (dorongan kehidupan) yang ada sejak bayi. Berikut ini adalah tahapan perkembangan menurut Sigmund Freud :
a. Fase oral (0-1 tahun) : Anak memperoleh kenikmatan dan kepuasan yang bersumber pada mulut. Hubungan sosial bersifat fisik seperti makan dan mengempeng. Objek sosial terdekatnya adalah ibu.
b. Fase anal (1–3 tahun) : Fase ini pusat kenikmatan terletak didaerah anus, terutama saat BAB. Inilah saat untuk mengajari anak toilet training. Pada anak laki-laki terjadi Oedipus Kompleks.
c. Fase falik (3–5 tahun) : Daerah kepuasaan berpindah ke daerah alat kelamin. Anak tertarik pada perbedaan anatomis laki-laki dan perempuan.
d. Peride laten (5–12 tahun) : Ini bisa dikatakan sebagai masa itirahat, anak mengembangkan kemampuan motorik dan kognitifnya dengan pesat. Anak mulai mencoba menekan rasa takut dan ceman. Selain itu pada periode ini juga terjadi homo seksual secara alami karena anak akan bermain dengan teman sesama jenis.
e. Fase genital ( > 12 tahun ) : Alat-alat reproduksi mulai berfungsi, pusat kepuasaan berada di daerah kelamin. Libido diarahkan untuk hubungan heteroseksual. Mulai merasakan cinta kepada lawan jenis.

B. Teori Perkembangan Kepribadian Erick H Erikson
Menurut Erikson, perkembangan kepribadian manusia dibagi kedalam delapan tahanpan yang terjadi secara berurutan dan berhubungan. Dimana empat tahap pertama dilalui pada saat individu dalam masa bayi dan kanak-kanak, tahapan kelima dilalui saat individu memasuki masa adolesen (remaja) sementara tiga tahapan terakhir dilalui individu pada masa dewasa dan tua. Dimana masa adolesen memegang peranan penting karna pada masa ini akan terbentuk identitas atau malah kekacauan identitas. Erikson membagi delapan tahapan perkembangan kepribadfian berdasarkan kualitas dasar ego yang muncul pada setiap tahapannya. Berikut ini adalah delapan tahapan perkembangan kepribadian menurut Erick Erikson :
a. Basic trust vs Basic mistrust ( 0 – 1 tahun )
Situasi-situasi yang menyenangkan dan orang-orang yang bertanggungjawab membuat kenyamanan menjadi akrab dengan bayi. Berkat kenyamanan dan keamanan itu maka bayi akan mengembangkan prestasi sosial pertamanya yaitu kepercayaan dasar. Sebaliknya bila rasa kenyamanan dan keamanan itu tidak terpenuhi makan akan terbentuk kecurigaan dasar.
b. Authonomy vs Shame and Doubt ( 2 – 3 tahun )
Anak dapat melakukan aktivitas secara lebih luas dan bervariasi maka konflik yang terjadi saat ini adalah perasaan untuk mandiri atau ragu-ragu dan malu.
c. Initiative vs Guilt ( 3 – 6 tahun )
Jika pada tahapan sebelumnya anak bisa mencapai tahapan mandiri maka selanjutnya anak akan mengembangkan inisiatifnya untuk mengambil kepurusan atau merasakan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu sesuai kehendaknya. Namun apabila anak sebelumnya gagal mencapai kemandirian, dengan kata lain anak mengembangkan keragu-raguan maka selanjutnya ia akan berkembang menjadi anak yang penuh dengan perasaan bersalah.
d. Industry vs Inferiority ( 6 – 11 tahun )
Anak akan merasa mampu melakukan segala sesuatu pada tahapan ini atau anak akan merasa “kecil” atau rendah diri dilingkungannya.
e. Identity vs Role confusion ( 12 tahun )
Anak dihadapkan pada norma-norma atau sosok yang diharapkan oleh orang tua sementara itu anak sendiri merasakan dirinya sebagai individu yang unik. Maka inilah masa dimana anak mulai ingin menentukan siapa dirinya saat ini dan ingin menjadi siapa dirinya dimasa akan datang. Jika anak dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan kemampuan yang ada maka inilah yang disebut dengan identitas. Sementara jika anak gagal menenukan dan mengembangkan dirinya maka anak akan mengalami yang namanya kekaburan peran.
f. Intimacy vs Isolation
Remaja mulai ingin menyatukan identitasnya dengan orang lain. Individu mulai menjalin sebuah hubungan dengan lwan jenis. Nilai cinta mulai berkembang dalam tahapan keintiman ini. Sementara lawannya adalah isolasi yaitu kecenderungan untuk menghindar dari orang lain atau sibuk mengurusi dirinya sendiri.
g. Generativity vs Self-absorbtion
Individu akan memperhatikan apa yang dihasilkannya serta mulai merencanakan untuk memiliki keturunan atau malah individu akan mengalami stagnasi.
h. Integrity vs Despair
Individu akan mengakumulasikan dan mengingat masa lalunya. Rasa puas akan prestasi dan tindakan-tindakan dimasa lalu akan menimbulkan kepuasan atau kekecewaan.


D. Kepribadian Sehat
Kepribadian sehat apabila dijelaskan secara statistika adalah pribadi yang berada didalam kurva normal. Sementara dari pandangan lainnya kepribadian sehat menekankan pada pengoptimalan potensi-potensi yang dimiliki.


E. Daftar Pustaka
    •   Prabowo, Hendro, 1996 dkk.Psikologi Umum I, Jakarta : Universitas Gunadarma
    •  Lindzey, Gardner dan Hall, Calvin S, 1993. Teori-Teori Psikodinamika (Klinis), Yogyakarta : Kanisius
    •  Schultz, Duane, 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat, Yogyakarta : Kanisius
    •   Siswanto, 2007. Kesehatan Mental, Yogyakarta : Andi Yogyakarta

    Kamis, 29 Desember 2011

    mengulas jurnal

    Oke temen-temen di akhir tahun dan di akhir masa-masa perkuliahan semester tiga ini saya mendapat tugas untuk mengulas sebuah jurnal yang menyangkut tentang psikologi dan perkembangan teknologi. Ya mungkin secara awam semua bisa menilai jika kemajuan internet akan menimbulkan dampak negatif pada individu yang bersangkutan seperti akan muncul banyak tindak kekerasan di masyarakat. persepsi itu tidak salah namun juga tidak benar maka dari itu yuukkk mari kita bahas pengaruh-pengaruh apa saja yang ditimbulkan perkembangan teknologi pada psikologis anak.
    Dalam sebuah jurnal yang berjudul " pengaruh pengenalan komputer terhadap psikologis anak : studi kasus taman balita salman al farisi " dijelaskan bahwa perkembangan teknologi saat ini sudah tidak terbatas, artinya siapapun dimanapun dan kapanpun pasti menggunakan bantuan teknologi dalam menyelesaikan tugasnya. Bahkan anak-anak sudah terbiasa dengan chatting, email atau sekedar bermain game online di komputer. Diperkirakan sekitar 67 % rumah di Amerika Serikat memiliki game komputer konsol.
    Pada khakikatnya perkembangan adalah proses yang terjadi secara terus menerus tanpa henti. Manusia berkembang dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya dan berbagai macam faktor tersebut saling berhubungan. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor gen atau hereditas, lingkungan, fisik, emosi, intelegensi dan sosial. Memahami perkembangan anak merupakan upaya yang dapat dilakukan agar perkembangan anak terjadi secara maksimal.
    Erik Erickson mengungkapkan delapan tahapan perkembangan yang pasti dilalui oleh setiap individu. tahapan-tahapan tersebut adalah kepercayaan vs ketidakpercayaan, autonomy vs rasa malu dan ragu, inisiatif vs perasaan bersalah, industri vs infenrioritas, identitas vs kekaburan peran, intimacy vs isolasi, produktivitas vs stagnansi dan terakhir integritas vs putus asa. Jika tahapan-tahapan tersebut dapat dilaluinya dengan baik sesuai dengan usianya maka perkembangan anak akan menjadi sangat baik dan maksimal dan sebaliknya jika anak tidak dapat melalui tahapan tersebut maka perkembangan anak menjadi terganggu.
    Upaya yang dapat dilakukan dalam memenuhi setiap tahapan perkembangan tersebut antara lain memberikan kegiatan kepada anak sesuai dengan usianya. Seperti contohnya pada usia satu tahun anak mengembangkan rasa percayanya yang didapat melalui keluarga, usia dua hingga tiga tahun anak mulai belajar mengembangkan koordinasi visio-motoriknya. Secara umum tugas yang harusnya dilalui oleh anak pada fase kanak-kanaknya antara lain : meningkatkan keterampilan fisik, menyadari tugas akan gender, bersosialisasi atau bermain dengan teman sebaya, belajar bersekolah dll. Namun pada kenyataannya, sekarang ini banyak anak-anak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan diusianya sebagai contoh, saat ini anak-anak sudah banyak yang dengan fasih menggunakan internet atau menonton televisi dengan jangka waktu yang cukup lama. Hal-hal ini akan mengganggu perkembangan anak di fase selanjutnya.
    Sumber :
    * http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/view/1308/1067